Jakarta, 8 Juli 2025

PUSATNEWS, Aksi unjuk rasa bertajuk “Indonesia Gelap” yang digelar di kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya, Jakarta Pusat, Senin malam (7/7), berujung ricuh. Massa aksi yang sebelumnya berorasi secara damai sejak sore hari, mulai bertindak anarkis menjelang malam dengan membakar ban, atribut, dan menyalakan petasan ke arah aparat keamanan.
Demonstrasi ini diinisiasi oleh gabungan elemen mahasiswa, aktivis prodemokrasi, dan kelompok masyarakat sipil sebagai bentuk protes terhadap pemadaman listrik bergilir, kenaikan harga energi, serta pelemahan hak-hak sipil yang mereka nilai kian memburuk di bawah pemerintahan saat ini.
Kronologi Ketegangan
Sekitar pukul 17.00 WIB, massa mulai memadati area Patung Kuda dengan membawa spanduk bertuliskan “Negeri dalam Gelap”, “Tarif Naik, Rakyat Tercekik”, dan “Cahaya Demokrasi Dipadamkan.” Aksi berlangsung damai hingga menjelang pukul 19.00 WIB, saat sebagian massa menyalakan petasan dan membakar ban di tengah jalan, memaksa aparat membentuk barikade tambahan.
Petugas kepolisian dari Polres Metro Jakarta Pusat sempat mengimbau massa untuk membubarkan diri karena dinilai membahayakan ketertiban umum. Namun, imbauan tersebut ditanggapi dengan pelemparan botol plastik dan percikan kembang api oleh oknum demonstran.
Pernyataan Resmi Polisi
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, menyatakan bahwa pihaknya menahan diri semaksimal mungkin untuk menghindari bentrokan. Namun, satuan pengendalian massa akhirnya mengamankan 12 orang yang diduga memicu kericuhan.
“Kami amankan mereka yang membawa petasan besar, membakar barang, dan memprovokasi kerumunan. Kami tetap mengedepankan pendekatan humanis, namun aturan harus ditegakkan,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa pagi (8/7).
Tidak ada korban luka berat dalam insiden tersebut, namun sejumlah petugas dan peserta aksi dilaporkan mengalami iritasi akibat asap pembakaran.
Tuntutan Aksi
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh koordinator aksi, demonstran menuntut:
- Penghentian pemadaman listrik sepihak dan audit transparan kebijakan energi nasional.
- Penurunan harga tarif dasar listrik dan BBM.
- Perlindungan terhadap kebebasan sipil dan hak bersuara di ruang publik.
- Penghentian kriminalisasi terhadap aktivis yang menyuarakan protes sosial.
Aksi “Indonesia Gelap” menjadi salah satu protes terbesar yang terjadi di Ibu Kota sejak awal 2025, menyoroti kekesalan publik terhadap kombinasi tekanan ekonomi dan pembatasan ruang demokrasi. Meski sebagian besar peserta berdemo secara tertib, insiden pembakaran dan penggunaan petasan mempertegas urgensi penanganan aspirasi masyarakat secara dialogis dan terbuka.
Pemerintah belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan yang disuarakan dalam aksi tersebut. Situasi di sekitar Monas dan Patung Kuda kini telah kembali kondusif, namun pengamanan masih disiagakan hingga 24 jam ke depan.
