PUSATBERTA – Dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan seorang tokoh pengasuh pesantren di Pati terus menyita perhatian publik. Salah satu korban dilaporkan masih mengalami trauma berat hingga kini dan kerap menangis saat mengingat kejadian yang dialaminya semasa duduk di bangku SMP.
Pendamping korban mengungkapkan bahwa kondisi psikologis korban masih sangat terguncang. Rasa takut, cemas, hingga jijik disebut terus muncul ketika korban mengingat kembali pengalaman pahit yang dialaminya di masa lalu.
Kasus ini memicu keprihatinan luas dari masyarakat dan pemerhati perlindungan anak. Banyak pihak menilai korban kekerasan seksual membutuhkan pendampingan jangka panjang, bukan hanya proses hukum terhadap pelaku, tetapi juga pemulihan mental dan emosional agar dapat kembali menjalani kehidupan dengan baik.
Baca Juga.
Duka Mendalam, Identitas 16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Sumsel Mulai Terungkap
Pihak berwenang saat ini masih terus mendalami kasus tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi dan bukti tambahan. Aparat juga memastikan korban mendapatkan perlindungan selama proses hukum berlangsung.
Lembaga pendamping anak dan perempuan mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan seksual serta berani melapor apabila menemukan dugaan tindakan serupa. Dukungan lingkungan dinilai sangat penting agar korban tidak merasa sendiri dalam menghadapi trauma yang dialami.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa dampak kekerasan seksual dapat membekas dalam waktu sangat lama, terutama ketika dialami korban di usia remaja.
