Bandung, 1 Mei 2026 — Sebuah gerakan sederhana dari warga kota mendadak viral di media sosial. Puluhan warga di Bandung terlihat menanam sayuran di lahan sempit, bahkan di atap rumah dan pinggir jalan.
Video yang memperlihatkan kebun kecil di tengah padatnya perkotaan telah ditonton jutaan kali dan menuai pujian dari netizen. Banyak yang menyebut aksi ini sebagai solusi kreatif menghadapi kenaikan harga bahan pangan.
“Kami mulai dari cabai dan kangkung, sekarang sudah bisa panen sendiri,” kata Dini (34), salah satu penggerak komunitas urban farming tersebut.
Harga kebutuhan pokok yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir mendorong masyarakat mencari alternatif mandiri. Urban farming atau pertanian kota kini semakin diminati, terutama karena tidak membutuhkan lahan luas.
Selain membantu kebutuhan sehari-hari, kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi lingkungan. Suhu di sekitar area hijau mini tersebut terasa lebih sejuk, dan kualitas udara meningkat.
Pemerintah daerah pun mulai melirik gerakan ini sebagai program potensial. Beberapa kota bahkan dikabarkan akan menyediakan fasilitas khusus untuk mendukung warga yang ingin bercocok tanam di area perkotaan.
Dari sekadar tren viral, urban farming kini berkembang menjadi gerakan nyata yang memberi manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat.

