Kuala Lumpur, 8 Juli 2025

PUSATNEWS, Sebuah video viral menunjukkan guru Bahasa Melayu di sebuah sekolah dasar di Malaysia, dikenal sebagai Cikgu Gja, mengeluhkan siswanya menggunakan istilah-istilah Bahasa Indonesia saat mengerjakan ujian. Guru tersebut menyoroti fenomena ini sebagai dampak pengaruh konten digital yang ditonton anak-anak
Kronologi ke Viral
Video berdurasi kurang dari satu menit memperlihatkan Cikgu Gja memeriksa jawaban siswa dan menemukan penggunaan kosakata seperti “rumah sakit”, “teman-teman”, dan “berencana”, alih-alih padanan resmi Bahasa Melayu seperti “hospital”, “kawan-kawan”, dan “merancang” youtube.com+10news.okezone.com+10therakyatpost.com+10. Ia menyarankan agar orang tua turut mengawasi konten digital yang dikonsumsi anak karena konten YouTuber Indonesia disebut memengaruhi perbendaharaan kata mereka
Reaksi Guru & Warga
Menurut Cikgu Gja, Kementerian Pendidikan melalui Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) menetapkan kosakata resmi yang benar sesuai kaidah Bahasa Melayu. Ia menegaskan bahwa penggunaan kata serapan Indonesia pada ujian resmi dianggap keliru
Warganet Malaysia mendukung keprihatinannya, dengan banyak yang menyebut penggunaan istilah Indonesia di lingkungan formal semburan dari budaya “bahasa rojak”—campuran bahasa yang tidak baku—yang menggerogoti ketahanan bahasa nasional
Sementara itu, netizen Indonesia memberi respons beragam. Sebagian merasa bahasa Indonesia diejek, sebagian lagi memahami kekhawatiran guru Malaysia.
Implikasi Pendidikan dan Budaya
Fenomena ini mencerminkan dampak kuatnya soft power konten digital Indonesia di negara tetangga, terutama lewat YouTube dan TikTok—yang menjangkau bahkan anak-anak sekolah dasar di Malaysia
Secara struktural, kebijakan Dual Language Program di Malaysia juga mempengaruhi kompetensi ganda siswa. Meski Bahasa Inggris dan Melayu diajarkan paralel, pengawasan penggunaan Bahasa Melayu standar tetap menjadi sorotan .
Rekomendasi & Penutup
Kasus ini menggarisbawahi perlunya:
- Kolaborasi antara sekolah dan orang tua untuk mengarahkan konten digital yang sehat.
- Pendidikan literasi media di sekolah agar siswa menyadari perbedaan dialek dan bahasa resmi.
- Penguatan norma bahasa dalam penilaian akademik, memastikan ujian menggunakan kosakata yang diakui secara nasional.
Kesimpulan
Viralnya kasus penggunaan istilah Bahasa Indonesia di ujian Malaysia bukan hanya soal perbedaan dialek, tetapi juga soal bagaimana konten digital lintas negara membentuk kebiasaan generasi muda. Pendidikan karakter dan pengawasan konten menjadi faktor penting agar bahasa resmi tidak tergerus tren serupa.
