PUSATBERITA – Ketegangan global kembali meningkat setelah Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Iran. Presiden Amerika Serikat itu memberi waktu 48 jam bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa jika Iran tidak segera membuka jalur tersebut, maka konsekuensi besar akan terjadi. Ia bahkan menyebut “neraka akan menimpa” Iran jika ultimatum itu diabaikan.
Ultimatum ini muncul di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan militer dan gangguan terhadap jalur energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% distribusi minyak dunia, sehingga penutupannya berdampak besar terhadap ekonomi global.
Baca juga.
Ketegangan Memuncak: Israel Hancurkan 17 Kamera Milik Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon
Sebelumnya, Trump juga sempat mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran, termasuk pembangkit listrik, jika tuntutannya tidak dipenuhi dalam batas waktu yang ditentukan.
Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap tegas dan tidak mudah tunduk terhadap tekanan tersebut. Ketegangan antara kedua negara bahkan semakin meningkat setelah insiden militer, termasuk jatuhnya pesawat tempur AS dalam konflik terbaru.
Pengamat internasional menilai ultimatum ini berpotensi memperparah eskalasi konflik, bahkan bisa menyeret kawasan ke dalam krisis yang lebih luas. Selain ancaman militer, dampak ekonomi global juga menjadi perhatian utama, terutama terkait harga energi yang berpotensi melonjak tajam.
Situasi ini kini menjadi sorotan dunia, dengan harapan adanya jalur diplomasi yang mampu meredam konflik sebelum berubah menjadi konfrontasi besar.
