PUSATBERITA – Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah ketegangan di Selat Hormuz meningkat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mulai menyinggung sejumlah negara dan meminta mereka ikut bertanggung jawab mengamankan jalur pelayaran vital tersebut setelah Iran diduga memblokir aksesnya.
Trump menilai banyak negara bergantung pada pasokan energi yang melewati Selat Hormuz, sehingga tidak seharusnya hanya Amerika Serikat yang menanggung beban menjaga keamanan jalur tersebut. Ia pun mendorong beberapa negara besar untuk turut mengirim dukungan militer demi menjaga kelancaran pelayaran kapal-kapal tanker minyak.
Baca Juga.
Arus Mudik Mulai Ramai, Kakorlantas Sebut 28% Kendaraan Sudah Tinggalkan Jakarta
Ketegangan meningkat karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas itu. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang ekonomi global.
Sebelumnya, Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap mengambil tindakan tegas jika Iran benar-benar menghambat aliran minyak di jalur tersebut. Ia bahkan mengancam serangan militer yang jauh lebih keras apabila gangguan terhadap pelayaran internasional terus terjadi.
Di sisi lain, pemerintah Iran membantah telah menutup Selat Hormuz. Pejabat Teheran menegaskan bahwa ketidakstabilan di kawasan itu justru dipicu oleh serangan dan tekanan militer dari Amerika Serikat serta sekutunya.
Dengan tensi yang terus meningkat, banyak pihak khawatir konflik di kawasan Teluk dapat semakin meluas. Jika jalur perdagangan energi tersebut benar-benar terganggu dalam waktu lama, dampaknya bukan hanya dirasakan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga ekonomi dunia secara keseluruhan.
