PUSATBERITA – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian memuncak setelah konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus berkembang. Dalam pernyataannya kepada negara-negara di kawasan Teluk Persia, Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan tegas bahwa Teheran kini terdesak untuk mengambil langkah responsif dalam kondisi yang disebutnya “dipaksa membela diri”.
Presiden Pezeshkian melalui unggahan di platform X menegaskan bahwa Iran telah berusaha keras melalui jalur diplomasi bersama para pemimpin regional untuk mencegah eskalasi konflik sebelum perang meluas. Menurutnya, serangan militer yang dilakukan oleh AS dan Israel telah meninggalkan Iran “tanpa pilihan lain selain untuk bertindak”.
Baca Juga.
4 Fakta Oknum Prajurit TNI Aniaya Sopir Taksi, Sempat Todongkan Pistol Mainan
Pernyataan itu disampaikan langsung kepada para kepala negara tetangga Iran di kawasan Teluk, termasuk negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman. Pezeshkian kembali menekankan bahwa Tehran menghormati kedaulatan negara tetangga dan menginginkan stabilitas di kawasan melalui upaya kolektif para negara di wilayah tersebut.
Namun, respons beragam dari negara-negara Teluk menunjukkan tantangan besar dalam menjaga kestabilan regional. Beberapa negara anggota GCC menyampaikan kritik tajam terhadap tindakan militer Iran dan menyerukan agar pihak yang terlibat “kembali ke akal sehat” guna menghindari perluasan konflik yang lebih besar.
Di tengah pernyataan Teheran, sejumlah negara Teluk memberi sinyal siap mengambil langkah defensif untuk melindungi wilayah dan keamanan nasional mereka, namun sejauh ini belum ada respons militer langsung yang melibatkan Iran. Para pemimpin kawasan terus mempertimbangkan dampak lebih luas dari konflik ini, baik terhadap keamanan regional maupun ekonomi global.
Pesan Presiden Iran ini sekaligus mencerminkan bagaimana eskalasi perang telah merubah dinamika hubungan antara Teheran dan negara-negara tetangganya, memaksa masing-masing pihak untuk mencari posisi strategis di tengah konflik yang masih berlangsung.
