Pariaman – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga menjadi sumber kasus keracunan massal ratusan siswa di Kota Pariaman, Sumatera Barat, resmi ditutup sementara. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan sambil menunggu hasil penyelidikan dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Kepala Dinas Kesehatan setempat menyampaikan bahwa penutupan sementara dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi distribusi makanan yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya para pelajar. Saat ini, sejumlah sampel makanan, bahan baku, hingga peralatan pengolahan telah diambil untuk dilakukan pengujian secara menyeluruh.
“Sampel sedang diuji oleh BPOM untuk mengetahui penyebab pasti kejadian keracunan yang dialami para siswa,” ujar pihak Dinas Kesehatan.
Insiden tersebut mengakibatkan ratusan siswa mengalami gejala yang diduga sebagai keracunan makanan, seperti mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga diare. Para korban langsung mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan, sementara sebagian lainnya diperbolehkan menjalani rawat jalan setelah kondisi mereka membaik.
Pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan bergerak cepat melakukan investigasi epidemiologi guna menelusuri sumber penyebab kejadian. Pemeriksaan tidak hanya difokuskan pada makanan yang dikonsumsi siswa, tetapi juga mencakup proses penyimpanan, pengolahan, distribusi, serta standar kebersihan di dapur penyedia makanan.
Selain itu, petugas juga melakukan pendataan terhadap seluruh siswa yang mengonsumsi menu pada hari kejadian untuk mengetahui jumlah korban secara akurat serta memantau perkembangan kondisi kesehatan mereka.
Pihak BPOM akan melakukan serangkaian uji laboratorium terhadap sampel makanan guna mengidentifikasi kemungkinan adanya kontaminasi bakteri, virus, bahan kimia, maupun faktor lain yang menyebabkan keracunan massal tersebut. Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan pemberian sanksi apabila ditemukan adanya pelanggaran standar keamanan pangan.
Sementara itu, operasional SPPG dihentikan hingga proses investigasi selesai dan dinyatakan memenuhi persyaratan keamanan pangan. Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan peserta didik menjadi prioritas utama, sehingga seluruh layanan penyediaan makanan akan dievaluasi secara menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menunggu hasil resmi pemeriksaan BPOM. Pemerintah juga memastikan penanganan terhadap para korban terus dilakukan, sekaligus berkomitmen meningkatkan pengawasan terhadap penyelenggaraan layanan penyediaan makanan di lingkungan pendidikan agar memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.

