PUSATBERITA – Dewan Keamanan PBB kembali menjadi panggung ketegangan global setelah negara-negara besar terlibat perdebatan sengit terkait konflik yang melibatkan Iran. Pertemuan yang seharusnya menjadi jalan menuju perdamaian justru diwarnai saling tuding antara blok Barat dan Timur.
Amerika Serikat secara terbuka menuduh Rusia dan China sengaja melindungi Iran dari tekanan internasional. Washington menilai kedua negara tersebut menghambat upaya pengawasan dan sanksi terhadap Teheran di forum PBB.
Di sisi lain, Rusia dan China justru mendorong penghentian aksi militer serta menyerukan solusi diplomatik. Keduanya juga mengkritik langkah militer yang dilakukan oleh AS dan sekutunya, yang dinilai memperkeruh situasi di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga.
Bandung Diterjang Hujan Angin, Puluhan Pohon Tumbang, Satu Warga Meninggal Dunia
Ketegangan semakin memuncak saat DK PBB gagal menyepakati resolusi penting terkait penghentian konflik. Dalam voting, usulan yang diajukan Rusia hanya mendapat dukungan terbatas dan ditolak oleh AS, sementara sebagian besar negara memilih abstain.
Sementara itu, resolusi lain yang menekan Iran untuk menghentikan serangan ke negara-negara Teluk memang disahkan, namun menuai kontroversi karena tidak menyinggung aksi militer dari pihak AS dan sekutunya.
Situasi ini mencerminkan semakin tajamnya rivalitas geopolitik global, di mana konflik regional seperti di Iran berkembang menjadi ajang “adu pengaruh” antara kekuatan besar dunia. Banyak pihak khawatir, jika kebuntuan di DK PBB terus berlanjut, upaya meredam eskalasi justru akan semakin sulit terwujud.
Pengamat menilai, perpecahan di tubuh DK PBB menjadi sinyal bahwa dunia saat ini sedang menghadapi tantangan serius dalam menjaga stabilitas dan perdamaian internasional.
