PUSATBERITA – Banyak orang tetap ingin menjaga kebugaran tubuh selama Ramadan dengan berolahraga, termasuk lari. Namun pertanyaannya, kapan waktu yang lebih aman dan efektif: setelah sahur atau menjelang berbuka puasa?
Pakar gizi dan olahraga dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelaskan bahwa keduanya memiliki kelebihan dan risiko masing-masing, tergantung kondisi fisik serta intensitas latihan yang dilakukan.
Menurutnya, lari setelah sahur relatif lebih aman dari risiko dehidrasi karena tubuh masih memiliki cadangan cairan dan energi dari makanan yang baru dikonsumsi. Namun, olahraga di pagi hari tetap perlu dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang agar tidak memicu kelelahan berlebihan sepanjang hari.
Baca Juga.
Panduan Waktu Imsak dan Sholat untuk Warga Tegal, 26 Februari 2026
Sementara itu, lari menjelang berbuka juga cukup populer karena waktu berbuka sudah dekat sehingga risiko dehidrasi bisa segera diatasi. Jika merasa lemas, pelari hanya perlu menunggu waktu maghrib untuk mengisi kembali cairan dan energi. Namun, kondisi tubuh saat sore hari biasanya sudah mengalami penurunan stamina karena seharian berpuasa.
Pakar IPB menyarankan agar durasi lari dibatasi sekitar 20–30 menit dengan intensitas ringan hingga sedang. Penting juga untuk memperhatikan asupan saat sahur dan berbuka, terutama karbohidrat kompleks, protein, serta cairan yang cukup untuk menjaga keseimbangan energi.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk mendengarkan sinyal tubuh. Jika muncul pusing, mual, atau tanda dehidrasi, sebaiknya segera menghentikan aktivitas.
Kesimpulannya, baik setelah sahur maupun menjelang berbuka bisa menjadi pilihan waktu berlari saat puasa, selama dilakukan dengan bijak dan disesuaikan kondisi fisik masing-masing. Dengan perencanaan yang tepat, ibadah tetap lancar dan kebugaran pun tetap terjaga.
