5 Februari 2026
Pelaku usaha mikro dan kecil di sektor kuliner mulai meninggalkan kemasan plastik sekali pakai dan beralih ke bahan berbasis serat alam seperti daun olahan, ampas tebu, dan pati singkong. Perubahan ini dipicu oleh meningkatnya kesadaran konsumen terhadap dampak lingkungan.
Produsen kemasan lokal kini mampu memproduksi wadah makanan yang tahan panas, aman untuk makanan, dan dapat terurai secara alami dalam waktu singkat. Harga yang semakin terjangkau membuat UMKM tidak lagi terbebani biaya produksi yang tinggi.
Selain mengurangi limbah, kemasan ramah lingkungan juga menjadi nilai tambah pemasaran. Banyak pelaku usaha melaporkan peningkatan minat pembeli karena citra usaha yang dinilai lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Pemerhati ekonomi kreatif menilai tren ini sebagai bukti bahwa keberlanjutan tidak selalu harus mahal atau rumit. Dengan memanfaatkan bahan lokal dan teknologi sederhana, UMKM Indonesia menunjukkan bahwa inovasi bisa tumbuh dari kebutuhan nyata di lapangan.

