5 Februari 2026
Sejumlah sekolah dasar di wilayah pedesaan Indonesia mulai menerapkan sistem kelas digital mandiri sebagai solusi atas keterbatasan jumlah tenaga pengajar. Program ini memanfaatkan perangkat tablet sederhana berisi modul pembelajaran interaktif yang dapat digunakan siswa secara bergantian.
Berbeda dari pembelajaran daring konvensional, sistem ini dirancang agar tetap berjalan meskipun akses internet terbatas. Materi pelajaran disimpan secara offline dan diperbarui secara berkala oleh dinas pendidikan daerah melalui pusat distribusi data keliling.
Para guru berperan sebagai pendamping belajar, sementara siswa mengikuti modul berbasis video, simulasi, dan latihan adaptif sesuai kemampuan masing-masing. Metode ini dinilai mampu menjaga kualitas pembelajaran meski jumlah guru tidak sebanding dengan jumlah murid.
Pemerintah daerah menilai pendekatan ini sebagai langkah realistis untuk menjaga pemerataan pendidikan tanpa harus menunggu pembangunan infrastruktur besar dalam waktu singkat. Jika hasilnya konsisten, model ini berpotensi diperluas ke daerah terpencil lainnya di Indonesia.

