PUSATBERITA – Di tengah puing-puing sisa banjir yang sempat melumpuhkan sejumlah desa di Aceh Utara, semangat warga untuk bangkit tak ikut hanyut. Dengan keterbatasan bantuan dan kondisi ekonomi yang sulit, para penyintas banjir memilih cara sederhana namun penuh daya juang: memanfaatkan kayu hanyut untuk membangun kembali rumah mereka.
Kayu-kayu besar yang terbawa arus banjir dan tersangkut di persawahan maupun pinggir sungai kini dikumpulkan warga. Dengan peralatan seadanya, kayu tersebut dipotong, dibersihkan, lalu dijadikan tiang, dinding, hingga rangka atap rumah darurat.
“Daripada menunggu lama, kami pakai apa yang ada. Yang penting keluarga bisa berteduh,” ujar salah seorang warga penyintas banjir.
Baca Juga.
Khamenei Peringatkan AS: Jika Mulai Serang, Konflik Bisa Meluas Jadi Perang Regional
Bangkit dengan Gotong Royong
Pembangunan rumah-rumah darurat dilakukan secara gotong royong. Warga saling membantu, dari mengangkut kayu hingga mendirikan bangunan sederhana. Meski belum layak sepenuhnya, rumah-rumah tersebut cukup melindungi dari hujan dan panas.
Bagi sebagian warga, kayu hanyut bukan sekadar material bangunan, melainkan simbol harapan di tengah bencana. Dari sesuatu yang dibawa oleh banjir, lahir kembali tempat tinggal dan semangat untuk memulai ulang kehidupan.
Harap Bantuan Berkelanjutan
Meski telah berupaya mandiri, warga tetap berharap adanya bantuan lanjutan dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan, terutama untuk perbaikan rumah permanen, kebutuhan pangan, dan pemulihan ekonomi pascabanjir.
Banjir yang melanda Aceh Utara sebelumnya merendam ratusan rumah, merusak fasilitas umum, serta memaksa banyak keluarga mengungsi. Kini, seiring surutnya air, warga perlahan kembali ke kampung halaman dengan tekad kuat untuk bangkit.
Di tengah keterbatasan, kisah para penyintas ini menjadi gambaran ketangguhan dan solidaritas masyarakat Aceh Utara—bahwa dari bencana, selalu ada ruang untuk harapan dan kebersamaan
