PUSATBERITA – Pemerintah mulai mengencangkan ikat pinggang pengawasan harga pangan strategis menjelang bulan suci Ramadan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan harga kebutuhan pokok tetap stabil dan daya beli masyarakat tidak tertekan saat permintaan meningkat.
Sejumlah komoditas utama seperti beras, minyak goreng, gula, telur, daging ayam, daging sapi, hingga cabai menjadi perhatian khusus. Pemerintah menilai lonjakan harga pangan jelang Ramadan kerap terjadi akibat meningkatnya konsumsi serta distribusi yang tidak merata.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah mengintensifkan operasi pasar, memperkuat cadangan pangan nasional, serta mempercepat distribusi dari daerah surplus ke wilayah defisit. Koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, hingga BUMN pangan juga diperkuat.
Baca Juga.
Cuaca Hari Ini Jumat 30 Januari: Jabodetabek Didominasi Awan Tebal, Warga Diminta Tetap Waspada
“Stok aman, distribusi diperbaiki, harga harus terjaga,” menjadi prinsip utama pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
Selain itu, pengawasan terhadap spekulan dan praktik penimbunan juga diperketat. Aparat diminta bertindak tegas jika ditemukan upaya memainkan harga yang dapat merugikan masyarakat, terutama menjelang bulan ibadah.
Pengamat ekonomi menilai langkah antisipatif ini krusial untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Stabilnya harga pangan selama Ramadan dinilai tidak hanya berdampak pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga menjaga ketenangan sosial di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Masyarakat pun diimbau untuk tetap berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan Ramadan dapat dijalani dengan tenang, tanpa kekhawatiran lonjakan harga bahan pangan pokok.
