PUSATBERITA – PT Pertamina (Persero) disebut menanggung beban keuangan hingga sekitar Rp 2 triliun per hari akibat harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri yang tidak mengalami penyesuaian di tengah lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: seberapa kuat Pertamina mampu bertahan menahan tekanan tersebut?
Beban tersebut muncul karena selisih antara harga keekonomian BBM dengan harga jual yang tetap ditahan pemerintah demi menjaga daya beli masyarakat dan menekan inflasi. Akibatnya, Pertamina harus menanggung kompensasi besar untuk menutup gap harga pasar dan harga jual di SPBU.
Pengamat energi menilai, jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang tanpa penyesuaian harga maupun tambahan kompensasi pemerintah, tekanan terhadap arus kas dan kesehatan finansial perusahaan bisa semakin berat.
“Dalam jangka pendek Pertamina masih bisa bertahan karena skala bisnisnya besar dan mendapat dukungan pemerintah. Namun jika berlarut-larut, tentu akan berdampak pada kemampuan investasi dan ekspansi perusahaan,” ujar pengamat energi.
Di sisi lain, pemerintah berada dalam posisi dilematis. Kenaikan harga BBM berisiko memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat, sementara penahanan harga membuat beban subsidi dan kompensasi membengkak.
Situasi ini menempatkan Pertamina di garis depan kebijakan energi nasional—menjaga stabilitas harga bagi masyarakat, namun dengan konsekuensi tekanan keuangan yang tidak kecil.
Publik kini menanti langkah pemerintah dan Pertamina dalam mencari titik tengah antara menjaga kestabilan ekonomi dan keberlanjutan bisnis perusahaan energi pelat merah tersebut.
