PUSATBERITA – Di tengah memanasnya konflik kawasan Timur Tengah, Iran mengambil langkah strategis dengan tetap membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz—namun dengan syarat ketat. Negara tersebut menegaskan bahwa hanya kapal dari negara “non-musuh” yang diperbolehkan melintas, sementara akses ditutup bagi pihak yang dianggap memusuhi Teheran.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, yang menegaskan bahwa jalur vital tersebut tidak sepenuhnya ditutup, melainkan berada di bawah kontrol penuh Iran. Kapal-kapal yang tidak terlibat dalam konflik disebut masih bisa melintas dengan aman.
Jalur Minyak Dunia dalam Kendali
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling strategis di dunia, karena sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan ini.
Baca Juga.
Mulai 1 April 2026, Purbaya Targetkan Aturan Bea Keluar Batu Bara Resmi Berlaku
Namun dalam beberapa pekan terakhir, situasi berubah drastis. Iran dilaporkan memperketat pengawasan, bahkan menolak atau menghentikan kapal yang tidak memiliki izin atau dianggap tidak bersahabat.
Beberapa kapal dari negara yang memiliki hubungan baik dengan Iran dilaporkan masih bisa melintas, bahkan dengan koordinasi khusus dari otoritas setempat.
Tekanan ke Negara Barat
Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk tekanan langsung terhadap negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya. Kapal yang terkait dengan negara-negara tersebut disebut tidak diizinkan melintas, sebagai respons atas konflik yang sedang berlangsung.
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar strategis dalam konflik geopolitik.
Dampak Global Mulai Terasa
Meski tidak ditutup total, pembatasan ini tetap berdampak besar. Lalu lintas kapal menurun, biaya pengiriman meningkat, dan kekhawatiran terhadap pasokan energi global pun melonjak.
Para analis menilai, jika situasi terus berlanjut, dunia bisa menghadapi lonjakan harga minyak dan gangguan perdagangan internasional dalam waktu dekat.
