PUSATBERITA – Ketegangan antara Iran dan United States yang kembali memanas turut menjadi perhatian para pengamat hubungan internasional di Indonesia. Seorang pakar dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyoroti bagaimana respons Indonesia terhadap konflik global tersebut jika dilihat dari gaya kepemimpinan dua presiden berbeda.
Dosen Hubungan Internasional UMY, Sidik Jatmika, menilai pendekatan Presiden Prabowo Subianto terhadap isu geopolitik global memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan mantan Presiden Joko Widodo. Menurutnya, Jokowi selama masa kepemimpinannya lebih fokus pada pembangunan dalam negeri atau pendekatan inward looking.
Sebaliknya, Prabowo dinilai cenderung lebih aktif dalam isu geopolitik internasional atau outward looking. Latar belakang serta pengalaman internasionalnya membuat pemerintah saat ini lebih terlibat dalam dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah dan upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan.
Baca Juga.
Drone Serang Fasilitas Perusahaan AS di Basra, Ketegangan di Irak Kembali Meningkat
Dalam situasi konflik Iran-AS yang semakin memanas, Indonesia bahkan disebut membuka kemungkinan berperan sebagai mediator. Namun para pakar menilai langkah tersebut hanya bisa berhasil jika kedua pihak yang berkonflik benar-benar menerima Indonesia sebagai penengah.
Meski begitu, para analis mengingatkan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tetap harus mempertimbangkan faktor ekonomi dan stabilitas nasional. Pasalnya, hubungan dengan Amerika Serikat memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan, investasi, dan posisi Indonesia dalam sistem ekonomi global.
Perbandingan gaya kepemimpinan ini menunjukkan bahwa arah politik luar negeri Indonesia dapat berubah mengikuti karakter pemimpinnya, terutama ketika menghadapi konflik internasional yang berdampak luas terhadap stabilitas dunia. 🌍
