PUSATBERITA – CEO perusahaan kecerdasan buatan Anthropic, Dario Amodei, menegaskan bahwa perusahaannya tidak akan mematuhi permintaan kerja sama yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer Amerika Serikat.
Pernyataan ini menegaskan sikap Anthropic yang sejak awal mengusung prinsip pengembangan AI yang aman, etis, dan bertanggung jawab. Amodei menyebut bahwa teknologi AI memiliki dampak besar bagi umat manusia, sehingga penggunaannya harus dibatasi agar tidak disalahgunakan dalam konteks konflik bersenjata atau pengambilan keputusan yang bisa menghilangkan nyawa manusia.
Baca Juga.
Deretan Tokoh yang Muncul Jadi Calon Pengganti Ali Khamenei di Iran
Di tengah meningkatnya minat militer global terhadap kecerdasan buatan—mulai dari analisis intelijen hingga sistem otonom—sikap Anthropic ini menjadi sorotan. Banyak perusahaan teknologi justru berlomba menawarkan solusi AI ke sektor pertahanan, sementara Anthropic memilih jalur berbeda.
Menurut Amodei, keputusan ini bukan berarti menolak pemerintah sepenuhnya, tetapi menarik garis tegas antara riset sipil dan penggunaan militer. Ia menilai bahwa tanpa batasan yang jelas, AI berisiko mempercepat eskalasi konflik dan menciptakan konsekuensi yang sulit dikendalikan.
Sikap keras ini menuai beragam reaksi. Sebagian pihak memuji Anthropic sebagai perusahaan yang konsisten menjaga etika, sementara lainnya menilai keputusan tersebut bisa membatasi peluang bisnis di masa depan.
Namun bagi Anthropic, pilihan sudah jelas: AI harus melayani kemanusiaan, bukan peperangan.
