PUSATBERITA – Ketegangan besar di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel national football team meluas ke ranah energi global setelah kedua negara melancarkan serangan militer terhadap wilayah Iran, termasuk target strategis dan infrastruktur penting. Serangan ini mendorong reaksi keras dari Teheran yang mengancam akan menutup total Selat Hormuz, salah satu jalur laut paling vital di dunia untuk transportasi minyak dan gas.
Baca Juga.
Netanyahu Tuding Khamenei Tewas, Iran dengan Tegas Membantah
⚓ Jalur Energi Dunia di Ambang Krisis
Selat Hormuz adalah jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, dan setiap hari sekitar 20% pasokan minyak dunia serta volume besar gas alam cair (LNG) melewati kawasan ini.
Dalam respons terhadap serangan AS–Israel, Garda Revolusi Iran (IRGC) dan otoritas Teheran telah menyampaikan pesan ke kapal-kapal yang melintas bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz untuk sementara, sehingga sejumlah perusahaan minyak besar dan pemilik kapal menghentikan sementara pengiriman melalui rute tersebut.
🛢️ Dampak Langsung pada Pasokan Minyak
Akibat ketidakpastian ini, beberapa tankers terpaksa menunggu di pelabuhan seperti Fujairah (Uni Emirat Arab) karena mereka enggan mengambil risiko melintasi kawasan yang berpotensi berbahaya.
Lebih jauh lagi, risiko penutupan Selat Hormuz bisa mengancam hingga hampir 50% pasokan minyak mentah India, karena banyak kapal yang mengangkut kebutuhan energi negara itu melintasi rute tersebut setiap bulannya.
📈 Potensi Gejolak Harga
Analis pasar energi memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz—bahkan jika hanya sebagian atau sementara—dapat mendorong harga minyak global melonjak tajam karena kekhawatiran akan pasokan yang terganggu. Beberapa prediksi menyebut harga bisa menembus level lebih tinggi dari $100 per barel jika eskalasi berkepanjangan.
🌍 Reaksi Global
Peringatan dari otoritas maritim asing dan saran kepada kapal-kapal untuk menghindari kawasan menunjukkan bahwa situasi ini tidak hanya masalah regional, tetapi berpotensi berdampak pada ekonomi global, konsumen, dan industri transportasi energi di berbagai benua.
