PUSATBERITA – Ramadan selalu membawa berkah bagi banyak orang, termasuk para pedagang takjil dadakan di sudut-sudut kampung. Namun di balik ramainya “war takjil” setiap sore, terselip cerita perjuangan seperti yang dialami Bi Enti, pedagang kolak dan gorengan yang setiap hari mangkal di depan gang kecil dekat rumahnya.
Sejak awal Ramadan, dagangan Bi Enti selalu laris manis. Warga berbondong-bondong membeli kolak pisang, es buah, hingga bakwan untuk menu berbuka. Bahkan tak jarang pembeli harus antre karena dagangannya cepat habis diserbu pemburu takjil.
“Alhamdulillah, tiap sore ramai. Kadang sebelum azan sudah habis,” ujar Bi Enti sambil tersenyum.
Namun di balik ramainya pembeli, Bi Enti mengaku harus berjibaku dengan harga bahan pokok yang terus merangkak naik. Harga gula, minyak goreng, santan, hingga tepung disebut mengalami kenaikan sejak menjelang Ramadan. Kondisi ini membuatnya harus pintar menghitung modal agar tetap mendapat keuntungan tanpa menaikkan harga terlalu tinggi.
Baca Juga.
Car Free Day Jakarta Tetap Berlangsung Selama Ramadan, Ini Lokasi dan Jadwalnya
“Kalau harga dinaikkan terlalu mahal, kasihan pembeli. Tapi kalau tidak naik, modalnya makin berat,” katanya.
Fenomena “war takjil” memang menjadi tradisi unik setiap Ramadan. Selain menjadi ajang berburu menu berbuka favorit, momen ini juga menggerakkan ekonomi kecil di tingkat warga. Pedagang musiman hingga pelaku UMKM memanfaatkan peluang untuk menambah penghasilan.
Meski tekanan harga bahan pokok terasa “mencekik”, Bi Enti tetap bersyukur karena dagangannya laku setiap hari. Ia berharap harga kebutuhan bisa kembali stabil agar para pedagang kecil tak semakin terbebani.
Di tengah hiruk pikuk pembeli dan aroma manis kolak yang mengepul, Ramadan kembali membuktikan diri sebagai bulan penuh berkah—bukan hanya bagi pembeli yang berburu takjil, tetapi juga bagi pedagang kecil yang menggantungkan harapan pada setiap mangkuk yang terjual.
