PUSATBERITA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang panggung perdagangan global dengan meluncurkan kebijakan tarif impor sebesar 10 persen terhadap sejumlah mitra dagang. Kebijakan ini disebut-sebut sebagai respons atas kekecewaan mendalam terhadap hubungan dagang yang dinilai tidak lagi menguntungkan bagi Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, Trump menyiratkan bahwa langkah tersebut lahir dari rasa “patah hati” terhadap negara-negara yang selama ini dianggap menikmati akses pasar AS tanpa memberikan timbal balik setara. Istilah itu menjadi sorotan karena menggambarkan ketegangan emosional sekaligus strategi politik dalam kebijakan ekonomi luar negeri.
Baca Juga.
Kalender Maret 2026: Daftar Hari Libur Nasional, Lebaran, dan Cuti Bersama
Dorong Perlindungan Industri Dalam Negeri
Tarif 10 persen ini diberlakukan untuk berbagai produk impor yang masuk ke pasar AS. Pemerintah menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk perlindungan terhadap industri domestik, sekaligus upaya menekan defisit perdagangan yang terus menjadi isu utama.
Menurut Trump, kebijakan tarif bukan sekadar sanksi, melainkan alat negosiasi agar mitra dagang mau menyepakati perjanjian yang dianggap lebih adil bagi pekerja dan pelaku usaha Amerika.
Dampak ke Pasar Global
Langkah ini langsung memicu respons beragam dari pelaku pasar dan negara mitra. Beberapa analis memperkirakan kebijakan tersebut bisa memicu ketegangan dagang baru, bahkan berpotensi menimbulkan aksi balasan dalam bentuk tarif serupa.
Pasar keuangan global pun sempat bergejolak menyusul pengumuman tersebut. Investor mencermati kemungkinan kenaikan harga barang impor di AS yang dapat berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat.
Strategi Politik dan Ekonomi
Pengumuman tarif dilakukan di kompleks White House dan dipandang sebagai bagian dari strategi politik menjelang agenda domestik penting. Trump menegaskan bahwa kebijakan ini adalah wujud komitmen “America First”, yakni memprioritaskan kepentingan ekonomi nasional di atas tekanan eksternal.
Meski menuai kritik, pendukung Trump melihat langkah tersebut sebagai keberanian dalam menata ulang hubungan dagang internasional yang dinilai timpang selama bertahun-tahun.
Babak Baru Perdagangan Global
Dengan tarif 10 persen resmi diberlakukan, dunia kini menanti respons lanjutan dari negara-negara mitra. Apakah kebijakan ini akan menjadi pintu negosiasi baru atau justru memicu perang dagang jilid berikutnya, masih menjadi tanda tanya besar.
Yang jelas, keputusan ini kembali menegaskan bahwa arah kebijakan perdagangan AS di bawah kepemimpinan Trump tak pernah lepas dari pendekatan tegas — bahkan jika harus dibungkus dengan istilah “patah hati.”
