PUSATBERITA.INFO – Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan warna merah dan emas yang mendominasi dekorasi, pakaian, hingga pernak-pernik perayaan. Mulai dari lampion yang menghiasi sudut-sudut kota, amplop angpao, hingga ornamen di rumah-rumah warga Tionghoa, dua warna ini seakan menjadi simbol utama kemeriahan Imlek. Namun, di balik keindahannya, tersimpan makna filosofis yang mendalam.
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, warna merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan perlindungan dari energi negatif. Konon, menurut legenda kuno, warna merah dipercaya mampu mengusir makhluk buas bernama “Nian” yang kerap mengganggu warga pada malam pergantian tahun. Sejak saat itu, merah menjadi simbol perlindungan sekaligus harapan akan tahun yang lebih baik.
Baca Juga.
Pemkot Jakut Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Hujan Ekstrem dan Banjir
Sementara itu, warna emas merepresentasikan kemakmuran, kekayaan, dan kesuksesan. Emas dianggap sebagai simbol rezeki dan kejayaan, sehingga penggunaannya dalam dekorasi Imlek mencerminkan doa serta harapan agar tahun yang baru membawa keberlimpahan dan kesejahteraan.
Kombinasi merah dan emas bukan sekadar pilihan estetika, melainkan wujud doa dan optimisme. Setiap lampion yang menyala dan setiap angpao yang dibagikan membawa pesan harapan, kebahagiaan, serta semangat baru untuk memulai tahun dengan penuh keyakinan.
Tak heran jika hingga kini, warna merah dan emas tetap menjadi elemen yang tak terpisahkan dari perayaan Imlek—menghadirkan suasana hangat, meriah, sekaligus sarat makna bagi jutaan orang yang merayakannya di berbagai penjuru dunia.
