PUSATBERITA – Insiden drone Iran Shahed-139 yang dilaporkan terbang mendekati kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln kembali menyedot perhatian dunia internasional. Aksi tersebut dinilai sebagai sinyal kemampuan militer Iran sekaligus pesan politik di tengah meningkatnya tensi kawasan.
Shahed-139 merupakan salah satu drone strategis yang dikembangkan Iran untuk misi pengintaian dan serangan jarak jauh. Berikut lima keunggulan utama drone Shahed-139 yang membuatnya diperhitungkan oleh militer dunia:
Baca Juga.
Istana Buka Suara soal Dugaan Keluarga Pelajar di NTT Tak Terima Bansos
1. Jangkauan Terbang Jauh
Shahed-139 dikenal memiliki radius operasi yang luas, memungkinkan terbang hingga ratusan bahkan ribuan kilometer. Kemampuan ini membuatnya efektif untuk misi pengawasan di wilayah laut terbuka tanpa harus mendekatkan pangkalan peluncur.
2. Mampu Membawa Muatan Senjata
Drone ini dirancang sebagai kamikaze drone (loitering munition), yang berarti dapat membawa hulu ledak dan menghantam target secara langsung. Fitur ini menjadikannya bukan sekadar alat pengintai, tetapi juga senjata ofensif.
3. Sulit Terdeteksi Radar
Dengan desain aerodinamis dan profil terbang rendah, Shahed-139 disebut memiliki jejak radar relatif kecil, sehingga berpotensi menyulitkan sistem pertahanan udara lawan untuk mendeteksi sejak dini.
4. Biaya Produksi Relatif Murah
Salah satu keunggulan utama drone buatan Iran adalah biaya produksi yang jauh lebih rendah dibanding drone tempur negara Barat. Hal ini memungkinkan pengerahan dalam jumlah besar untuk menekan sistem pertahanan musuh.
5. Fleksibel untuk Misi Psikologis dan Militer
Selain fungsi tempur, Shahed-139 juga efektif sebagai alat unjuk kekuatan. Penerbangannya di dekat kapal induk AS dinilai sebagai pesan strategis untuk menunjukkan kemampuan penetrasi wilayah dan kesiapan militer Iran.
Insiden ini belum berujung pada konfrontasi langsung. Pihak militer AS menyatakan situasi tetap terkendali, sementara pengamat menilai kejadian tersebut mencerminkan perang saraf dan adu teknologi di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan semacam ini menegaskan bahwa peran drone kini semakin sentral dalam strategi militer modern, tidak hanya sebagai senjata, tetapi juga alat diplomasi keras di panggung global.
