PUSATBERITA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan dalam pernyataan terbaru bahwa perang antara Iran dan Amerika Serikat tidak memiliki pemenang dan justru akan membawa kerugian besar bagi kedua negara. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan dan kekhawatiran global akan eskalasi militer.
Pezeshkian menegaskan bahwa Republik Islam Iran bukan pihak yang mencari konflik, tetapi akan merespons dengan tegas jika terjadi agresi terhadap wilayahnya. Ia mengungkapkan bahwa Iran berkomitmen mempertahankan kedaulatan nasional tanpa memulai perang terlebih dahulu.
Baca Juga.
Petani Kopi di Dairi Mulai Manfaatkan Teknologi Pengering Surya
🤝 Upaya Diplomasi & Seruan Ketenangan
Pernyataan Presiden Iran ini muncul bersama intensifikasi upaya diplomasi internasional untuk meredakan ketegangan, termasuk melalui peran negara-negara seperti Turki yang memfasilitasi dialog untuk mencegah perang terbuka.
Dalam pembicaraan telepon bilateral baru-baru ini dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Pezeshkian menegaskan kembali sikap Iran untuk menghindari eskalasi konflik dan mendorong stabilitas regional.
📉 Ketegangan Politik dan Internal Iran
Meski menolak perang, Presiden Pezeshkian juga menuding beberapa kekuatan luar, termasuk AS, Israel, dan negara-negara Eropa, ikut memperuncing ketegangan internal Iran. Tuduhan ini terkait dengan dukungan terhadap kelompok yang memanfaatkan ketidakpuasan dalam negeri di tengah krisis ekonomi dan demonstrasi besar-besaran.
🌍 Respons Kawasan dan Global
Sementara itu, dari pihak lain dalam diplomasi global, pejabat Arab Saudi secara tidak resmi menyatakan bahwa jika AS tidak mengambil langkah tegas terhadap Iran, hal itu justru dapat memberi kekuatan lebih kepada rezim Teheran — sebuah pernyataan yang menunjukkan perbedaan pandangan di antara sekutu AS tentang cara menangani Iran.
đź§ Kesimpulan: Menimbang Risiko dan Diplomasi
Pernyataan Presiden Pezeshkian muncul di saat ketegangan antara Iran dan AS sedang tinggi, namun Iran tampak memilih jalan retorika yang menolak perang langsung dan mendorong negosiasi serta stabilitas regional. Meskipun demikian, kemungkinan konflik tak sepenuhnya tereliminasi, sehingga semua pihak global tetap berada dalam fase waspada dan diplomasi aktif.
