Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (PUSATBERITA.INFOFOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
PUSATBERITA – Langkah tegas Purbaya memberi sinyal kuat dimulainya gelombang bersih-bersih di tubuh Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai. Sejumlah kebijakan dan tindakan mendadak disebut membuat internal dua lembaga strategis itu “diobrak-abrik”, memicu kegelisahan sekaligus harapan publik akan reformasi yang nyata.
Dalam beberapa waktu terakhir, Purbaya dikabarkan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pegawai, termasuk penelusuran gaya hidup, kepatuhan pelaporan harta kekayaan, hingga dugaan praktik menyimpang. Langkah ini dipandang sebagai respons atas berbagai kasus yang sebelumnya mencoreng citra aparat perpajakan dan kepabeanan.
Sumber internal menyebutkan, pemeriksaan dilakukan tanpa pandang bulu. Pegawai yang diduga bermasalah langsung ditarik dari jabatannya untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut. Situasi ini menciptakan efek kejut di internal, namun dinilai penting untuk memutus mata rantai praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
Baca Juga.
5 Rutinitas Sederhana saat Makan Pagi yang Bikin Awet Muda, Tiru Yuk!
Pengamat kebijakan publik menilai manuver Purbaya merupakan sinyal politik sekaligus birokrasi: negara tidak lagi mentoleransi aparat pemungut penerimaan negara yang menyimpang. Pajak dan bea cukai dinilai sebagai urat nadi keuangan negara, sehingga integritas aparatnya menjadi harga mati.
Meski menuai dukungan luas, langkah bersih-bersih ini juga diingatkan agar tetap mengedepankan asas keadilan dan prosedur hukum. Transparansi dan akuntabilitas dinilai menjadi kunci agar reformasi tidak berubah menjadi sekadar guncangan internal tanpa hasil nyata.
Gerakan bersih-bersih ala Purbaya kini menjadi ujian serius bagi komitmen reformasi birokrasi. Publik menanti, apakah langkah keras ini akan berujung pada perbaikan sistemik atau sekadar hiruk-pikuk sesaat.
