PUSATBERITA – Ketegangan geopolitik kembali memuncak di Timur Tengah setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam tindakan tegas terhadap Iran apabila otoritas Teheran mempertahankan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa. Ancaman ini termasuk kemungkinan intervensi militer AS bila situasi di lapangan terus memburuk.
Merespons situasi yang semakin memanas, pemerintah Iran melakukan komunikasi diplomatik — termasuk melakukan percakapan telepon dengan China — untuk meminta dukungan dan solidaritas dari Beijing. Pihak China menegaskan penolakan terhadap penggunaan ancaman kekerasan dalam hubungan internasional dan menyerukan agar konflik diselesaikan melalui dialog dan jalur diplomasi, bukan eskalasi militer.
Baca Juga.
Polisi dan Disdik Mediasi Kasus Guru Adu Jotos dengan Siswa di Jambi
China menegaskan bahwa pihaknya siap memainkan peran konstruktif dalam meredakan ketegangan, sambil tetap menegaskan prinsip kedaulatan negara dan penolakan terhadap campur tangan negara lain dalam urusan internal Iran. Pernyataan Beijing tersebut mencerminkan kekhawatiran luas bahwa konflik militer bisa berdampak besar tidak hanya pada kawasan tetapi juga pada stabilitas global.
Sementara itu, tekanan AS tidak hanya bersifat militer. Trump juga mengumumkan rencana pemberlakuan tarif 25% terhadap negara yang melakukan perdagangan dengan Iran, langkah yang secara tidak langsung dipandang akan mempengaruhi mitra dagang besar seperti China. Beijing menanggapi dengan pernyataan akan menjaga kepentingannya secara tegas dalam menghadapi kebijakan tarif tersebut.
Reaksi komunitas internasional cukup beragam. Beberapa negara Arab dan kekuatan global lainnya bahkan mengimbau AS untuk menahan diri dari serangan militer, mengingat risiko eskalasi yang bisa meluas ke seluruh Timur Tengah.
Situasi tetap dinamis. Trump tampaknya mengambil sikap lebih hati-hati setelah mendapat tekanan diplomatik dan laporan yang menunjukkan beberapa perubahan dalam kebijakan Iran sendiri, termasuk klaim bahwa kekerasan telah menurun.
Intinya:
Diplomasi tengah diuji di tengah ancaman Trump terhadap Iran. Iran memilih memperkuat komunikasi dengan China untuk mencari dukungan politik dan tekanan global meningkat di kedua sisi — AS dengan ancaman militer dan tarif, serta China dengan seruan dialog. Ketegangan ini memiliki implikasi besar bagi keamanan regional dan hubungan internasional di tahun 2026.
