Medan, 30 November 2025 — Selama rentang 24–29 November 2025, provinsi Sumatera Utara menghadapi gelombang bencana besar: tercatat sebanyak 488 kejadian meliputi banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan puting beliung, tersebar di 21 wilayah hukum Polres di provinsi ini.
Dampak bencana ini luar biasa besar. Data resmi menunjukkan total 1.076 korban terdampak — yang meliputi 147 orang meninggal dunia, 32 luka berat, 722 luka ringan, serta 174 orang masih dalam pencarian/penanganan. Selain itu, sebanyak 28.427 jiwa terpaksa mengungsi akibat rumah hancur atau rusak parah.
Beberapa daerah paling parah terdampak berada di wilayah seperti Tapanuli Tengah — dengan puluhan peristiwa longsor dan banjir — serta kota lain di sepanjang pantai barat dan dataran tinggi yang rentan longsor. Infrastruktur vital seperti jalan raya, jembatan, jala komunikasi, dan listrik banyak yang rusak atau terputus, membuat proses evakuasi dan bantuan semakin sulit.
Sebagai tanggapan, aparat dari Polda Sumatera Utara (dan satuan Polri setempat) telah mengerahkan lebih dari 3.500 personel — termasuk tim penyelamat, unit medis, personel patroli, serta kendaraan dan helikopter untuk mendukung evakuasi, pembersihan jalan, dan distribusi logistik ke pengungsi.
Selain itu, para tenaga medis dan relawan kemanusiaan juga terus bergerak: mendirikan pos pengungsian, memberikan perawatan bagi korban luka, mendistribusikan makanan dan air bersih, serta membantu warga yang rumahnya rusak untuk mencari tempat aman. Pemerintah lokal dan pusat menekankan pentingnya koordinasi — mengingat banyaknya wilayah terdampak sekaligus.
Namun meski sudah banyak upaya darurat dilakukan, kebutuhan mendesak masih tetap besar. Banyak korban kehilangan tempat tinggal, akses ke air bersih dan listrik terputus, dan kondisi cuaca serta tanah labil membuat risiko bencana susulan tetap tinggi. Pemerintah mengimbau warga untuk tetap waspada, terutama di daerah rawan longsor dan banjir.

